Narasi “ibu adalah madrasah pertama” sering kali direduksi masyarakat menjadi sekadar pepatah usang untuk meromantisasi pengorbanan tanpa memberikan kompensasi riil. Mari kita bedah realitas ini tanpa basa-basi melodramatis. Peran perempuan dalam pendidikan anak, baik di rumah maupun di institusi sekolah, bukanlah sekadar fungsi afektif atau curahan kasih sayang buta; ini adalah proses transfer modal budaya dan modal kognitif yang secara harfiah membentuk matriks epistemik generasi manusia.
Jika kita gagal mendekomposisi variabel struktural di balik ini dan hanya melihatnya sebagai “kodrat biologis”, kita hanya sedang mereproduksi ketimpangan intelektual secara buta.



