Peringati HUT RI ke-81, MTs Sabilarrasyad Sangasanga Ajak Siswa Jelajahi Jejak Perjuangan di Bumi Sangasanga

Sangasanga, Kutai Kartanegara — Semangat kemerdekaan diwujudkan dengan cara berbeda oleh MTs Sabilarrasyad Sangasanga. Alih-alih hanya menggelar upacara dan lomba-lomba khas 17 Agustus, sekolah ini mengajak para siswanya untuk menapak tilas langsung ke situs-situs bersejarah peninggalan masa perjuangan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia yang tersebar di wilayah Kecamatan Sangasanga. Kegiatan bertajuk “Jelajah Situs Bersejarah” ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Dalam kegiatan tersebut, rombongan siswa mengunjungi empat titik situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Sangasanga melawan penjajah, yaitu Monumen Merah Putih, Benteng Pertahanan, Goa Jepang, dan Stelling atau bekas pertahanan militer. Para siswa tidak hanya diajak melihat dan berfoto di lokasi, tetapi juga mendengarkan penjelasan sejarah langsung dari para pemandu yang memahami kisah di balik setiap situs.

Menariknya, kegiatan ini tidak hanya didampingi oleh dewan guru, tetapi juga melibatkan pelatih pramuka sekolah serta Tim Kompas, singkatan dari Komunitas Pemerhati Sejarah Sangasanga, sebuah komunitas lokal yang selama ini aktif merawat dan mengedukasi masyarakat tentang jejak sejarah di wilayah tersebut. Kehadiran para pemerhati sejarah ini membuat siswa mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan otentik, tidak sekadar dari buku pelajaran.

Menanamkan Nilai Perjuangan Sejak Dini

Kepala Sekolah MTs Sabilarrasyad Sangasanga, Yuspi Parida, S.Pd., mengungkapkan bahwa kegiatan ini digagas dengan tujuan yang jauh lebih dalam dari sekadar wisata edukasi. Menurutnya, mengajak siswa turun langsung ke lapangan dan menyaksikan sendiri jejak fisik perjuangan para pahlawan diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air yang lebih membekas dibandingkan hanya membaca narasi sejarah di dalam kelas.

“Kami ingin menanamkan pada anak didik agar senantiasa menjaga dan menghargai jasa para pahlawan, khususnya mereka yang telah berjuang di Sangasanga,” ujar Yuspi Parida.

Ia menambahkan, generasi muda saat ini perlu memiliki kedekatan emosional dengan sejarah daerahnya sendiri, sehingga semangat juang para pendahulu tidak sekadar menjadi cerita, melainkan menjadi bagian dari identitas dan karakter yang dibawa hingga dewasa.

Mengenal Jejak Perjuangan di Sangasanga

Sangasanga dikenal sebagai salah satu wilayah di Kalimantan Timur yang menyimpan banyak jejak perjuangan melawan penjajahan, baik dari masa pendudukan Belanda maupun Jepang. Wilayah ini bahkan kerap dijuluki sebagai “kota juang” karena banyaknya situs perjuangan yang masih dapat ditelusuri hingga kini.

Salah satu situs yang paling dikenal adalah Monumen Merah Putih, yang berlokasi di Kelurahan Sangasanga Muara. Monumen ini dibangun pada akhir tahun 1976 dan diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur saat itu, H. A. Wahab Syachranie, pada 27 Januari 1977. Monumen ini menjadi penanda peristiwa heroik di mana para pejuang berhasil merobek bagian biru dari bendera Belanda hingga tersisa warna merah dan putih, sebuah momen simbolis perlawanan rakyat Sangasanga terhadap kolonial. Hingga kini, kawasan monumen tersebut masih sering digunakan sebagai lokasi napak tilas sekaligus destinasi wisata sejarah yang mengabadikan semangat perjuangan tersebut.

Selain monumen, wilayah Sangasanga juga menyimpan sejumlah gua peninggalan masa pendudukan Jepang yang akrab disebut Goa Jepang. Gua-gua semacam ini umumnya dibangun tentara Jepang pada kisaran tahun 1942-1945 sebagai tempat persembunyian, penyimpanan logistik dan amunisi, hingga perlindungan dari serangan udara. Di Sangasanga sendiri, salah satu gua yang dikenal berada di kawasan Sangasanga Muara dan pernah dijadikan lokasi persembunyian tentara Jepang, dengan kondisi lorong yang sempit dan minim sirkulasi udara, menghadirkan gambaran nyata tentang beratnya kondisi masa perang kala itu.

Adapun Benteng Pertahanan dan Stelling yang turut dikunjungi merupakan bagian dari rangkaian infrastruktur militer masa kolonial yang dibangun untuk kepentingan pertahanan wilayah. Bangunan-bangunan semacam ini lazim ditemukan di berbagai daerah bekas pendudukan Belanda dan Jepang di Indonesia, dan menjadi bukti fisik betapa strategisnya posisi Sangasanga pada masa itu, baik dari sisi pertahanan darat maupun pengawasan jalur sungai dan laut.

Menurut sejumlah tokoh masyarakat setempat, situs-situs bersejarah di Sangasanga yang telah terdaftar baik di tingkat daerah maupun pusat jumlahnya mencapai puluhan lokasi. Sayangnya, sebagian besar situs tersebut kondisinya kurang terawat dan membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah maupun masyarakat agar nilai sejarah dan edukasi di dalamnya tidak hilang ditelan waktu.

Wujud Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal

Kegiatan Jelajah Situs Bersejarah yang digagas MTs Sabilarrasyad Sangasanga ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan karakter dapat dipadukan dengan kearifan sejarah lokal. Dengan melibatkan komunitas pemerhati sejarah dan pelatih pramuka, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan, kepedulian, dan rasa cinta terhadap kampung halaman.

Diharapkan, kegiatan semacam ini dapat menjadi agenda rutin tahunan, khususnya menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga generasi muda Sangasanga tumbuh dengan pemahaman sejarah yang kuat sekaligus turut berperan aktif dalam pelestarian situs-situs bersejarah yang menjadi kebanggaan daerah.

Bagikan Artikel ini: